Remahan.com

Kerugian Capai Rp23 Triliun, BUMN Jiwasraya Diambang Kehancuran

REMAHAN.com - Direksi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) hari ini menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam paparan direksi, Jiwasraya harus mengantongi kerugian sebesar Rp 23 triliun hingga September 2019. Salah satu harapan perusahaan tidak gulung tikar dalam waktu dekat adalah dengan kepercayaan nasabah.

Direktur Utama Jiwasraya, Hexana Tri Sasongko mengakui mayoritas nasabah saat ini adalah korporasi BUMN yang menjaminkan pensiunan pada Jiwasraya. Ia menjelaskan, para nasabah inilah yang membuat perusahaan masih bisa bertahan hingga saat ini.

"Salah satu penyelamat kami karena nasabah adalah BUMN. Kalau mereka trust, tapi satu demi satu mereka rush, ya ini akan bubar," ujar Hexana di Komisi VI DPR RI, Senin (16/12).

Ia seperti dimuat Republika.co.id menjelaskan, 24 persen dari nasabah yang ada memutuskan untuk me-rollover polisnya sampai perusahaan bisa membayarkan polis. Sedangkan, sebagian kecilnya juga masih menanti perusahaan menyelesaikan persoalan kerugian ini.

Hexana memastikan, Jiwasraya tidak akan bisa membayar polis yang jatuh tempo pada Oktober hingga Desember pada tahun ini. Bahkan, ia tak berani menjanjikan tanggal kapan perusahaan akan menyelesaikan pembayaran tunggakan polis tersebut.

Baca: UMKM yang Terdata di Pekanbaru Sebanyak 15.126

Hexana menjelaskan saat ini tercatat polis jatuh tempo Oktober hingga Desember sebesar Rp 12,4 triliun. Sedangkan total tunggakan total sebesar Rp 16,3 triliun. Hexana menjelaskan perusahaan tidak mempunyai dana segar yang senilai itu untuk bisa membayar polis jatuh tempo.

"Tentu tidak bisa dan saya tidak bisa memastikan tanggal berapa," ujar Hexana.

Hexana mengakui salah satu penyebab perusahaan gagal membayar polis kepada para nasabahnya adalah karena kesalahan strategi perusahaan dalam berinvestasi. Hexana menjelaskan kesalahan strategi adalah penempatan usaha yang semestinya mayoritas ditempatkan ke goverment bond, malah dimasukan ke dalam skema investasi reksa dana saham.

Berdasarkan rencana panjang perseroan, seharusnya goverment bond menjadi instrumen investasi paling besar yaitu sebesar 30 persen. Termasuk juga obligasi korporasi non-BUMN, instrumen Bank Indonesia (BI) 30 persen.

Sementara instrumen investasi saham, reksa dana maksimum hanya 20 persen. Terakhir, deposito minimum 10 persen.

Baca: Realisasi Investasi di Pekanbaru Meningkat 285 persen

Hal ini berbanding terbalik dengan fakta yang saat ini terjadi di tubuh perusahaan pelat merah ini. Bahkan, dalam fakta yang dipaparkan per tahun 2018, perseroan telah menanamkan investasi saham lebih dari 50 persen.

Sementara di intsrumen obligasi pemerintah, instrumen BI masing-masing sekitar 15 persen. Selanjutnya perusahaan investasi di properti sekitar 20 persen. Lalu deposito sekitar 5 persen.

"Lalu yang kedua, penempatan premi di luar kehati-hatian. Investasi digeser ke reksa dana saham. Sebab, kalau pakai goverment bond, itu enggak akan pernah ngejar janji return ke nasabah. Makanya, ke saham dan pencadangan saham. Pola penetrasinya enggak akan mencapai segitu," ujar Hexana.

Hexana menegaskan, perusahaan tetap akan melakukan pemulihan dari kemelut ini. Salah satu caranya adalah menggaet investor baik dalam dan luar negeri untuk bisa menyuntikan modal kepada perusahaan. Sayangnya, ia enggan merinci persoalan ini karena terikat kontrak disclosure agreement dengan para investor.

"Kami akan selesaikan dengan penuh komitmen. Kami sedang melakukan due dilligence dengan delapan investor," ujar Hexana.

Baca: Meski Pandemi, GAPKI Optimis Devisa Ekspor Sawit 2020 Naik

Ia juga menjelaskan selain pemulihan dari segi bisnis, perusahaan juga akan melakukan restrukturisasi internal. Ia bahkan menjelaskan perusahaan juga perlu melakukan remodeling bisnis.

"Internal, prosesnya sudah lama. Ini harus restruk total dan remodeling bisnis. Biar profit dan tidak menjerat reatean tinggi. Digitalisasi, biar bisa efisien. DCG gak diterapkan dengan baik, jadi enggak ada kontrol yang baik. Fungsi manajemen resiko kita akan tingkatkan lagi," ujar Hexana. Rm

198 0

Artikel Terkait

MbS akan Jadi Pemilik Klub Terkaya di Dunia
MbS akan Jadi Pemilik Klub Terkaya di Dunia

Ekonomi

MbS akan Jadi Pemilik Klub Terkaya di Dunia

Benarkah Ruangguru Perusahaan Asing dari Singapura?
Benarkah Ruangguru Perusahaan Asing dari Singapura?

Ekonomi

Benarkah Ruangguru Perusahaan Asing dari Singapura?

PHRI Sebut Ratusan Hotel Tutup Operasional
PHRI Sebut Ratusan Hotel Tutup Operasional

Ekonomi

PHRI Sebut Ratusan Hotel Tutup Operasional

Artikel Lainnya

Pelaku Usaha Diingatkan Tetap Bayarkan THR
Pelaku Usaha Diingatkan Tetap Bayarkan THR

Ekonomi

Pelaku Usaha Diingatkan Tetap Bayarkan THR

Samsung Dirikan Pusat Riset Rp 3 T di Vietnam
Samsung Dirikan Pusat Riset Rp 3 T di Vietnam

Ekonomi

Samsung Dirikan Pusat Riset Rp 3 T di Vietnam

Pandi Optimis Penggunaan Domain .Id Tertinggi di Asia Tenggara
Pandi Optimis Penggunaan Domain .Id Tertinggi di Asia Tenggara

Ekonomi

Pandi Optimis Penggunaan Domain .Id Tertinggi di Asia Tenggara

Komentar