Remahan.com

Menperin Akui Impor Tekstil Berlebih, Berakibat Industri Dalam Negeri Terpuruk dan Karyawan di PHK

REMAHAN.com - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengakui ada impor berlebihan pada produk tekstil dan produk tekstil. Dampaknya kemudian memukul produsen dalam negeri, hingga ada aksi merumahkan pekerja hingga PHK, seperti yang terjadi di industri di Bandung, Jawa Barat.

"Tentu kita melihat ada impor yang berlebihan. Kita akan review lagi karena sekarang ada importir umum melalui PLB (Pusat Logistik Berikat). Kita mau dorong para produsen tidak terganggu. Apalagi perang dagang China-AS dan devaluasi China sehingga produk dari China akan kompetitif," kata Airlangga di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

PLB terang Airlangga seperti dikabarkan CNBCIndonesia, selama ini memudahkan bagi eksportir maupun importir dalam menyimpan barang mereka, sebagai kawasan berikat. Namun, Airlangga tak merinci persoalan apa yang terjadi pada PLB dan kaitannya dengan impor TPT yang berlebihan.

"Tentu pemerintah melindungi. Amerika kan memberi (tarif) 10 persen untuk produk China. Nah, kita akan lihat, beberapa sudah kita lakukan di keramik, nanti kita lihat di industri lain-lain," ujarnya.

Wakil Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Rizal Tanzil mengklaim tengah terjadi gelombang merumahkan pekerja dan PHK di industri tekstil Jawa Barat khususnya di wilayah Bandung Raya.

Baca: UMKM yang Terdata di Pekanbaru Sebanyak 15.126

"Laporan dari anggota kami per Juli kemarin, total sudah 36 ribu karyawan yang dirumahkan (2017-2019)," kata Rizal Tanzil belum lama ini.

Menurutnya, langkah PHK diambil lantaran perusahaan berupaya bertahan dengan cara menurunkan produksi. Dijelaskannya, saat ini banyak perusahaan mendapat tingkat utilisasi di kisaran 30- 40%. Penyebabnya selain barang murah dari China, juga ada kebijakan menutup Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bagi industri yang dianggap mencemari sebagai bagian dari program Sungai Citarum Harum.

"Bahkan beberapa sudah ada yang stop produksi seluruhnya, terutama IKM," tambahnya.

Kondisi industri TPT saat ini turut dipengaruhi banyaknya produk impor yang beredar dengan harga murah sehingga permintaan terhadap produsen lokal menurun.

Sekretaris jenderal APSyFI, Redma Gita Wirawasta menyatakan perizinan impor terhadap TST perlu diperketat.

Baca: Realisasi Investasi di Pekanbaru Meningkat 285 persen

"Ijin impor ditutup saja dulu, kecuali impor bahan baku untuk kepentingan ekspor yang melalui Kawasan Berikat (KB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE)," kata Redma.

Redma menjelaskan adanya impor ini telah membuat industri TPT dari hulu ke hilir menjadi terpuruk.

"Hanya garment yang berorientasi ekspor saja yang masih tumbuh," kata Redma. Rm

141 0

Artikel Terkait

Meski Pandemi, GAPKI Optimis Devisa Ekspor Sawit 2020 Naik
Meski Pandemi, GAPKI Optimis Devisa Ekspor Sawit 2020 Naik

Ekonomi

Meski Pandemi, GAPKI Optimis Devisa Ekspor Sawit 2020 Naik

MbS akan Jadi Pemilik Klub Terkaya di Dunia
MbS akan Jadi Pemilik Klub Terkaya di Dunia

Ekonomi

MbS akan Jadi Pemilik Klub Terkaya di Dunia

Benarkah Ruangguru Perusahaan Asing dari Singapura?
Benarkah Ruangguru Perusahaan Asing dari Singapura?

Ekonomi

Benarkah Ruangguru Perusahaan Asing dari Singapura?

Artikel Lainnya

PHRI Sebut Ratusan Hotel Tutup Operasional
PHRI Sebut Ratusan Hotel Tutup Operasional

Ekonomi

PHRI Sebut Ratusan Hotel Tutup Operasional

Pelaku Usaha Diingatkan Tetap Bayarkan THR
Pelaku Usaha Diingatkan Tetap Bayarkan THR

Ekonomi

Pelaku Usaha Diingatkan Tetap Bayarkan THR

Samsung Dirikan Pusat Riset Rp 3 T di Vietnam
Samsung Dirikan Pusat Riset Rp 3 T di Vietnam

Ekonomi

Samsung Dirikan Pusat Riset Rp 3 T di Vietnam

Komentar